Presiden AS Joe Biden Diancam Dibunuh, Pelaku Ditangkap Setelah Ancamannya Dilacak Lewat Telepon

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden diancam dibunuh warganya sendiri. Pelaku kini harus berurusan dengan polisi setelah ditangkap di sebuah hotel. Pria tersebut dilaporkan telah menghubungi Gedung Putih dan mengatakan dirinya berencana membunuh Biden.

Pelaku diketahui bernama John Andrew Bazor Jr usia 37 tahun. Dia dituduh oleh Dinas Rahasia AS di pengadilan federal pada Selasa (19/7/2022) karena membuat ancaman kepada Biden. Berdasarkan dokumen pengadilan, keluarga Bazor mengungkapkan kepada penyelidik federal bahwa pelaku menderita gangguan mental dan penggunaan zat terlarang.

Dikutip dari Newsweek, Bazor akan melakukan evaluasi untuk memastikan apakah ia kompeten untuk disidangkan atau tidak. Pengacaranya mengungkapkan kasus ini merupakan masalah mental bukan kriminal. “Berdasarkan semua fakta dan keadaan saat ini, sudah jelas ia membutuhkan perawatan mental di rumah sakit, bukan penjara,” tutur pengacara Bazor, Gordon Armstrong.

Dinas Rahasia menangkap Bazor pada Senin (18/7/2022), setelah menemukannya di sebuah hotel di Mobile, Alabama, berdasarkan affidavit atau bukti kesaksian di pengadilan oleh Agen Khusus Joseph Paul. Berdasarkan dokumen pengadilan itu, Bazor menghubungi kantor lapangan Dinas Rahasia Mobile, pada 9 Juli. Ia meninggalkan sejumlah pesan suara yang menyatakan telah membuat keluhan ke FBI dan Departemen Luar Negeri, serta CIA.

Menurut affidavit tersebut, operator Gedung Putih menerima pesan ancaman pembunuhan pada 10 Juli pukul 9.37 pagi waktu setempat. “Saya datang untuk membunuh Presiden,” tutur pelaku saat menghubungi operator Gedung Putih. “Saya tak sabar untuk melihat wajah Anda, ketika saya menembakkan peluru ke dirinya,” lanjut laporan affidavit tersebut.

Armstrong mengatakan kasus ini sementara masih dalam tahap awal, dan ada dua masalah yang jelas. Ia mengatakan antara apakah panggilan Bazor ke operator Gedung Putih adalah ancaman nyata dan apakah Bazor cukup kompeten untuk mengembangkan niat untuk membuat ancaman dan menindaklanjutinya. Sehari setelah operator Gedung Putih menerima panggilan itu, Dinas Rahasia mengeluarkan perintah pengadilan yang menghubungkan Bazor ke normor telepon yang digunakan.

Bazor kemudian ditangkap meski menolak untuk bicara dan bekerja sama. Tahun lalu, Wakil Presiden Amerika Serikat Kamala Harris juga pernah mendapatkan ancaman pembunuhan. Ancaman itu ditebar oleh seorang wanita asal Miami. Kini wanita itu telah didakwa karena diduga mengancam akan membunuh Kamala Harris.

Penolakan sosok Kamala Harris menjadi pemimpin di Amerika Serikat disebut menjadi motivasi sosok wanita yang diketahui bernama Niviane Petit Phelps. Menurut pengaduan pidana yang diajukan di Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Distrik Selatan Florida, Niviane Petit Phelps secara sadar dan sengaja membuat ancaman untuk membunuh dan melukai tubuh Wakil Presiden Amerika Serikat. Tindakan itu melanggar Title 18, United States Code Section 871, dari 13 Februari hingga 18 Februari, kata pengaduan tersebut, dilansir CNN.

Adapun terkuaknya ancaman Phelps terhadap wakil presiden AS tersebut terjadi pada 3 Maret 2021. Kala itu, Agen Khusus David Ballenger menerima laporan tentang ancaman untuk membunuh Harris. Ancaman dikirim oleh Phelps kepada pasangannya yang dipenjara di Lembaga Pemasyarakatan Wakulla.

Phelps menyatakan ancamannya melalui sebuah video yang dikirim kepada pasangannya. Pasangannya pun mengaksesnya melalui JPay, sebuah aplikasi komputer untuk berbagi media antara orang yang dipenjara dan tidak dipenjara. Seorang agen khusus Secret Service yang ditugaskan untuk menangani kasus tersebut memperoleh video dan foto yang dikirimkan oleh Phelps kepada pasangannya.

"Video (yang relevan dengan penyelidikan ini) secara umum menggambarkan Phelps mengeluh dan berbicara dengan marah di depan kamera tentang kebenciannya pada Presiden Joe Biden dan Wakil Presiden Kamala Harris." "Namun, dalam video tersebut, Phelps juga membuat pernyataan tentang pembunuhan Wakil Presiden Harris," tulis dalam pengaduan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.